Negara Tanpa Arah

Reading Time: 2 minutes

Bicara tentang negara ini memang susah, banyak kritik dibilang gak nasionalis, kurang bersyukur, sampai anti-pancasila. Tapi asal terima juga berasa pasrah, gak mikir, dan berasa gak peduli. Susah kan?

Selama 27 tahun hidup saya, ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan bagi saya. Aslinya sih banyak, tapi gak perlu disebutkan satu-satu juga kan. Satu yang ingin yang saya tanyakan saat ini, “Mau dibawa kemana negara ini?”.

Kenapa? Karena tujuan itu salah satu faktor yang membentuk persepsi, motivasi dan hasil yang didapatkan dalam beraktifitas. Ambil sebuah contoh, seorang mahasiswa kuliah di jurusan informatika/ilmu komputer. Jika tujuannya cuma asal lulus, ya kuliah pun ugal-ugalan, nilainya bisa jadi secukupnya, bisa juga bagus tergantung yang beri contekan, eh. Jika tujuannya ingin menjadi peneliti, maka aktifitasnya juga akan berubah, kemungkinan besar akan lebih rajin dan betul mencurahkan seluruh harta, jiwa, dan pikirannya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Jelas, sebuah tujuan atau arah yang jelas sangat penting dalam hidup, apalagi untuk sebuah negara.

Lho, bukannya di dalam Pembukaan UUD 1945 sudah jelas tujuan negara Indonesia?

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Pembukaan UUD 1945

Itu kan sudah jelas ada tujuan negara Indonesia, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kurang apa coba?

Justru itulah masalahnya, selama ini kita menelan mentah-mentah bahwa itulah tujuan negara Indonesia. Padahal itu hanyalah kewajiban dasar sebuah negara. Kalau negara nggak berusaha melakukan itu semua, masih mau jadi warga negara? Ambil contoh agak ekstrim, ada perusahaan yang dimana kalau jadi karyawannya tidak ada keuntungan apapun, bahkan gaji saja tidak ada, mau jadi karyawan perusahaan tersebut? Nggak, ya sama.

Lalu apa salahnya menjadikan kewajiban sebagai tujuan? Nggak salah sih, tapi ya nggak bener juga, karena “kebanyakan” negara juga melakukan hal yang sama.

Terus, mau saya apa? Ya bertanya, Indonesia, yang tahun ini usianya bakal jadi 74, usianya sudah tidak muda lagi. Apa dalam kurun waktu yang ada, Indonesia cuma mau sekadar menjalankan kewajiban? Lalu apa yang membuat negara ini beda dengan negara lain?

Apa hidup ini cuma sekadar mengarungi lautan waktu yang terus bergerak maju, tanpa tahu mau kemana kita?

Perlukah kita mengajarkan ‘coding’ kepada semua orang, termasuk anak-anak?

Reading Time: 2 minutes

Kalau ada seorang kenalan, teman, atau orang asing bertanya kepada saya, “Perlukah saya/anak saya belajar coding?”, kemungkinan besar saya akan menjawab “Tidak”. Sebelum berpikir macam-macam, perlu diingat, saya sendiri hingga sekarang, masih aktif dalam aktifitas coding.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, dan banyaknya perusahaan berbasis digital yang tumbuh. Sedikit banyak mengubah persepsi-persepsi di masyarakat, dan memunculkan pandangan pentingnya komputer. Bahkan memunculkan persepsi hingga obsesi bahwa semua orang harus belajar ‘coding’. Karena, katanya coding itu bagus untuk mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan masalah secara umum, atau setidaknya menyelesaikan masalah pengangguran yang ada.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi terjadi juga di negara maju. Semuanya berlomba mengkapitalisasi obsesi ini, memunculkan perusahaan, organisasi, lembaga yang mengajarkan coding. Di beberapa negara bahkan coding mulai menjadi pelajaran wajib di sekolah. Sungguh sangat menakjubkan memang perubahan yang dibawa oleh perkembangan teknologi.

Hal ini memunculkan pertanyaan, “Perlukah kita mengajarkan coding ke semua orang? termasuk anak-anak?”, dimana kalau kita menjawab perlu, maka berarti coding itu suatu yang wajib. Bagi yang menjawab perlu, berpendapat bahwa yang diajarkan adalah problem solving, bukan coding seperti yang dipahami oleh para programmer. Tapi apa sebenarnya coding itu? Problem solving? Atau sekumpulan intruksi yang diberikan ke komputer agar dapat berfungsi? Ada pendapat lain?

Melihat konotasi coding sendiri, dari kacamata seorang programmer, maka saya lebih memilih pendapat kedua, dimana coding adalah sekumpulan intruksi yang diberikan ke komputer agar dapat berfungsi. Kalaupun dalam prosesnya didapatkan proses problem solving maka itu pun sebenarnya bisa didapatkan dari kehidupan nyata, dan ini sebenarnya sangat banyak. Perlu disebutin contohnya gak? [Kalau perlu nanti ditambahin]

Tapi masalah di kehidupan nyata itu tidak langsung bersentuhan dengan komputer. Tidak masalah bukan? Tujuan kita itu mengajarkan proses problem solving kan? Bukan coding atau programming itu sendiri. Atau mulai sadar bahwa tujuan akhir yang diinginkan yaitu mencetak para programmer sejak dini. Perlu dipahami, tidak semua masalah itu harus diselesaikan dengan coding, bahkan faktanya dalam pengembangan aplikasi sendiri, coding itu adalah bisa dibilang bagian termudah dari seluruh proses yang ada.

Apakah saya akan mengajarkan anak saya coding? Tidak, kecuali mereka meminta. Kehidupan tidak hanya seputar coding. Lalu menurut saya apa yang harusnya diajarkan kepada anak-anak? Ajari mereka untuk membaca, menulis dengan lebih baik. Ajari mereka untuk menghargai semua disiplin ilmu, biarkan mereka bertanya, seaneh apapun pertanyaan itu.

While everyone today needs to be an app developer, is learning to code really the answer? Henry Ford said that, “If I had asked people what they wanted, they would have said faster horses.” I view everyone learning to code as app development’s version of a faster horse. What we all really want — and need — is a car.

Gottfried Sehringer

Pengalamanku Berhadapan dengan Kematian

Reading Time: 2 minutes

Satu. Masih awal kuliah, masih maba. Waktu itu siang hari, rencananya pulang ke gresik sama seorang teman asal dukun. Halo jib, apa kabar? Apa yang terjadi? Aku sempat ketiduran pas bawa motor, dekat jalan ke arah tanjung perak, gak jatuh sih, tapi aku gak sadar bahwa lagi bawa motor. Jadi, ketika harusnya belok kiri, aku malah lurus, dan untungnya lampu hijau. Baru diingatkan Najib ketika sudah merasa salah jalan(sudah dekat tanjung perak). Tapi santai saja, kami berdua baik-baik saja, aku berhenti dan menepi dan menenangkan diri. Perjalanan pulang? Lanjut dong. Jadi disini, minimal sudah pernah dijawil sama ‘kematian’.

Dua. Tidak lama setelah itu, kejadian seperti ini terjadi lagi. Untungnya kali ini cuma sendiri. Terjadi di daerah osowilangun, jadi sudah dekat dengan gresik. Tapi perlu diingat, jalur gresik surabaya itu jalur sangat rawan kecelakaan. Sama, ketiduran pas naik motor, dan kali ini nabrak bakul bakso. Untungnya, jalan pas sepi, dan gak nabrak dengan kecepatan tinggi, dan langsung tersadar. Langsung turun minta maaf, dan disuruh ke warkop terdekat. Buat apa? dimarahin tentu saja. Sebetulnya diminta ganti rugi juga, tapi karena gak bawa uang, ga jadi, sepertinya kasihan juga. Setelah dikasih teh sama pemilik warung, mulai agak tenang dan diijinkan melanjutkan perjalanan pulang.

Tiga. 2016, beberapa hari setelah menikah. Waktu jalan2 sama adik ipar, ke beberapa destinasi di jogja. Terjadi di destinasi terakhir, di pantai goa cemara. Intinya sih disana, targetnya ya foto-foto saja. Nah, pas ambil foto di bibir pantai, pas lagi gendong istri, ada ombak besar yang menjatuhkan. Setelah jatuh, ombaknya terasa seperti menyeret ke laut. Disitu, sebetulnya kayak benar-benar mau keseret total, dan tanpa harapan. Ditarik ombak laut selatan itu mengerikan, meskipun masih di bibir pantai. Tapi, saat itu, yang pasti belum ingin menyerah. Jadi tetap berusaha untuk keluar dari tarikan ombak, dengan bantuan adik ipar juga tentunya. Dan pada akhirnya berhasil selamat juga, belum waktunya memang. Kehilangan beberapa hal, tapi yang pasti, sampai sekarang masih diberi kesempatan untuk hidup.

NB : Kenapa ditulis? Biar nanti, kalau aku bahas kematian gak ada yang protes, “tahu apa tentang mati?”. Bro, I know more than you did.

Manusia Itu Terlalu Senang

Reading Time: 1 minute
Manusia itu terlalu senang
Mentang-mentang sudah shalat
Mentang-mentang sudah zakat
Mentang-mentang sudah puasa
Merasa yakin masuk surga
Manusia itu terlalu senang
Merasa bermanfaat karena pujian
Merasa berilmu karena pujian
Merasa berakhlak karena pujian
Sudah yakin masuk surga
Manusia itu terlalu senang
Sudah yakin dengan shalatnya
Sudah yakin dengan sedekahnya
Sudah yakin dengan amalnya
Padahal belum tentu diterima
Manusia itu terlalu senang
Padahal tak pernah menghitung
Padahal tak pernah mencatat
Padahal tak pernah memikirkan
Seakan dosa mudah dihapus
Manusia itu terlalu senang
Seakan jama'ahnya jaminan pasti
Seakan amalnya jaminan pasti
Seakan dakwahnya jaminan pasti
Padahal yang tahu pasti
Bukan dirinya
Padahal dirinya sering membiarkan
Membiarkan dosa terjadi
Padahal dirinya lemah
Padahal dirinya terbatas
Tapi dirinya merasa aman
Manusia itu terlalu senang

Learning Principle

Reading Time: 2 minutes

This is another remembrance, for the course of twenty four year, this is few handful learning principle that one must uphold. It may increased, but it will not be decreased. You may take it, but remember, this principle should be upheld when you are learning, shall anything happen when you applied for other things, it your own responsibility to take.

First principle, Learn everything worth learning and taking in everything for your growth. Basically, use every knowledge to your advantage. You may focused on one thing, but learning other paths shall reward you greatly. Especially practical skill such as fishing, sewing, cooking, handcraft, trap, etc. You should learn those, it may help you in the long run. Appreciate it.

Second, Stay true to your path. It’s okay to take a detour, but never settle for something less. Remember, your path is your own decision, nobody can’t change it unless you want to change it. Always seek path to your belief. It will not be easy, you may trapped in your abyss, but you must be able to prevail. Seek others for help, you shall not travel alone, it will help you greatly in your journey.

Third, Never fear for failure, be grateful for the lessons. Be sure to absorb it. Again, never fear for failure, rejection, or even a limbo. Failure could be helping in disguise, learn from it, prepare yourself to challenge it again. It shall be better if you fail early than later, failure is not nice to old age, be ready for failure from the tender young age. Also learn from others who experience the same failure, it will help you greatly, don’t ask advice from someone who only know about success, it wouldn’t help, but you can make them as a target to surpass.

P.S. Written at 6 January 2016.

Menghargai Ilmu

Reading Time: 2 minutes

Tulisan ini dibuat sebagai rasa ucapan terima kasih kepada ITS, kampus yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang hebat, dan mengajarkan pentingnya untuk menghargai ilmu. Saya sendiri bukanlah orang yang hebat, cuma mahasiswa biasa, yang meskipun kampung halaman tak jauh, bisa dibilang sangat jarang untuk pulang. Ditulis sebagai bentuk penyemangat untuk mahasiswa/i yang baru diterima di ITS melalui jalur undangan tahun pelajaran 2015/2016 (mengingat adik saya juga diterima pada periode ini), untuk tetap semangat, tidak patah arang dan menganggap jurusan yang dimasukinya salah pilih.

Perjalanan untuk mendapat gelar sarjana di ITS bukanlah sebuah hal yang mudah, tapi juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Salah satu problem yang bakal akan dihadapi para mahasiswa baru, adalah perasaan bahwa salah pilih jurusan, apapun pilihan jurusannya, sekuat apapun komitmen ketika awal memasuki jenjang kuliah. Apalagi banyaknya motivator/trainer yang sering menyarankan untuk terus mencari passion dan mengikuti passion. Maka, akhirnya satu per satu mahasiswa yang masih baru, akhirnya berguguran, memutuskan untuk pindah. Kalaupun tetap bertahan, maka hanya karena terpaksa, tanpa motivasi, dan akhirnya memilih untuk sekedar lulus.

Hal ini sangat disayangkan sekali, apalagi status sebagai mahasiswa itu sangat berharga. Ketika masih berstatus mahasiswa lah, mimpi-mimpi mudah untuk terkristal, menjadi tak mudah rapuh bahkan setelah menjadi seorang sarjana. Penyebabnya sebetulnya banyak, tapi mungkin bagi saya, satu yang penting adalah kemampuan untuk menghargai ilmu.

Selama 12 tahun sebelum menjadi mahasiswa, kita ditempa dengan berbagai macam jenis ilmu, mulai dari agama, sains, dan sosial. Tapi tak pernah ada penjelasan, korelasi berbagai macam jenis ilmu yang diterima. Bahkan ketika telah menjadi mahasiswa, tak pernah ada penjelasan. Akhirnya kita sulit untuk menghubungkannya, dan berakhir dengan ketidakmampuan kita dalam menghargai ilmu. Akhirnya kita hanya mampu melihat satu pohon, dan tidak mampu melihat hutan di sekeliling kita.

Apalagi untuk kita yang berada dalam sebuah institut teknik, dengan berbagai macam kultur yang ada di dalamnya, membuat kita hanya terfokus pada satu pohon. Bagi orang biasa, kita memang terlihat fokus, tapi fokus itulah yang membuat kita kehilangan banyak hal. Seakan hanya yang telah menjadi fokus kita yang mampu memuaskan rasa haus. Padahal semua pohon dalam hutan ilmu memiliki buah segar untuk kita nikmati.

Untuk itu perlu untuk mahasiswa (ITS atau bukan), baik masih baru atau sudah lama, untuk memperhatikan hal ini dalam proses belajarnya. Pilihan untuk pindah jurusan atau menetap, sejatinya tetap menjadi urusan pribadi masing-masing. Tapi tolong dicatat dalam hati masing-masing untuk tetap tenang, coba untuk mundur ke belakang, pelankan langkah dan lihat hutan yang ada di depan kita. Semuanya terhubung, jangan hanya fokus pada satu pohon, jangan hanya berlari menuju satu pohon. Berjalanlah pelan-pelan, nikmati buah segar selama perjalanan kita, mulai dari buah dari pohon yang telah kita pilih. Nikmatilah, karena perjalanan ini masih panjang

NB : Ini tulisan lama, kalau tidak salah di blog lama, terpublish pada tanggal 12 Mei 2015. Ada beberapa pandangan yang berubah memang. Tapi nanti akan ditulis pada kesempatan lain.

Akhir Hari

Reading Time: 1 minute
ini adalah akhir hari
hari ini sudah berakhir
kesalahan hari ini sudah tak bisa kusesali
telah kulakukan semampuku
dan telah kutukarkan waktuku
dan telah kubayar hari ini
yang bisa kulakukan cuma memperbaikinya besok
karena esok akan datang sebentar lagi
meski tak tahu
apakah sempat melihat esok
yang bisa kulakukan kini cuma berdoa dan bertaubat

Tentang Iman

Reading Time: 1 minute
Iman adalah cahaya
adalah cahaya menyinari hati
Do’a adalah hujan
adalah hujan membesarkan hati
Takwa menjadi karang
menjadi karang tak tergoyahkan
Dan Dakwah adalah
adalah pelaksanaan kata-kata
adalah pelaksanaan akhlaq

NB : Ini puisi, jangan dimaknai secara literal.

Selalu Ada Pilihan

Reading Time: 1 minute
Selalu ada pilihan
hidup memang selalu ada pilihan
juga selalu ada konsekuensinya
memilih untuk bersyukur atau mengeluh
memilih untuk bekerja atau duduk menunggu
memilih untuk belajar atau terjebak dalam kegelapan
memilih untuk berjuang atau diam menonton
hidup memang selalu ada pilihan
juga selalu ada konsekuensinya
dan jangan kira hasilnya akan sama

NB : Ini dibuat saat ada kasus korupsi sapi, memanfaatkan situasi saat itu, tapi bukan untuk menyerang. Kalau dianggap menyerang ya karepmu, wes karepmu.