Perlukah kita mengajarkan ‘coding’ kepada semua orang, termasuk anak-anak?

Reading Time: 2 minutes

Kalau ada seorang kenalan, teman, atau orang asing bertanya kepada saya, “Perlukah saya/anak saya belajar coding?”, kemungkinan besar saya akan menjawab “Tidak”. Sebelum berpikir macam-macam, perlu diingat, saya sendiri hingga sekarang, masih aktif dalam aktifitas coding.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, dan banyaknya perusahaan berbasis digital yang tumbuh. Sedikit banyak mengubah persepsi-persepsi di masyarakat, dan memunculkan pandangan pentingnya komputer. Bahkan memunculkan persepsi hingga obsesi bahwa semua orang harus belajar ‘coding’. Karena, katanya coding itu bagus untuk mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan masalah secara umum, atau setidaknya menyelesaikan masalah pengangguran yang ada.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi terjadi juga di negara maju. Semuanya berlomba mengkapitalisasi obsesi ini, memunculkan perusahaan, organisasi, lembaga yang mengajarkan coding. Di beberapa negara bahkan coding mulai menjadi pelajaran wajib di sekolah. Sungguh sangat menakjubkan memang perubahan yang dibawa oleh perkembangan teknologi.

Hal ini memunculkan pertanyaan, “Perlukah kita mengajarkan coding ke semua orang? termasuk anak-anak?”, dimana kalau kita menjawab perlu, maka berarti coding itu suatu yang wajib. Bagi yang menjawab perlu, berpendapat bahwa yang diajarkan adalah problem solving, bukan coding seperti yang dipahami oleh para programmer. Tapi apa sebenarnya coding itu? Problem solving? Atau sekumpulan intruksi yang diberikan ke komputer agar dapat berfungsi? Ada pendapat lain?

Melihat konotasi coding sendiri, dari kacamata seorang programmer, maka saya lebih memilih pendapat kedua, dimana coding adalah sekumpulan intruksi yang diberikan ke komputer agar dapat berfungsi. Kalaupun dalam prosesnya didapatkan proses problem solving maka itu pun sebenarnya bisa didapatkan dari kehidupan nyata, dan ini sebenarnya sangat banyak. Perlu disebutin contohnya gak? [Kalau perlu nanti ditambahin]

Tapi masalah di kehidupan nyata itu tidak langsung bersentuhan dengan komputer. Tidak masalah bukan? Tujuan kita itu mengajarkan proses problem solving kan? Bukan coding atau programming itu sendiri. Atau mulai sadar bahwa tujuan akhir yang diinginkan yaitu mencetak para programmer sejak dini. Perlu dipahami, tidak semua masalah itu harus diselesaikan dengan coding, bahkan faktanya dalam pengembangan aplikasi sendiri, coding itu adalah bisa dibilang bagian termudah dari seluruh proses yang ada.

Apakah saya akan mengajarkan anak saya coding? Tidak, kecuali mereka meminta. Kehidupan tidak hanya seputar coding. Lalu menurut saya apa yang harusnya diajarkan kepada anak-anak? Ajari mereka untuk membaca, menulis dengan lebih baik. Ajari mereka untuk menghargai semua disiplin ilmu, biarkan mereka bertanya, seaneh apapun pertanyaan itu.

While everyone today needs to be an app developer, is learning to code really the answer? Henry Ford said that, “If I had asked people what they wanted, they would have said faster horses.” I view everyone learning to code as app development’s version of a faster horse. What we all really want — and need — is a car.

Gottfried Sehringer

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.