Pengalamanku Berhadapan dengan Kematian

Standard

Satu. Masih awal kuliah, masih maba. Waktu itu siang hari, rencananya pulang ke gresik sama seorang teman asal dukun. Halo jib, apa kabar? Apa yang terjadi? Aku sempat ketiduran pas bawa motor, dekat jalan ke arah tanjung perak, gak jatuh sih, tapi aku gak sadar bahwa lagi bawa motor. Jadi, ketika harusnya belok kiri, aku malah lurus, dan untungnya lampu hijau. Baru diingatkan Najib ketika sudah merasa salah jalan(sudah dekat tanjung perak). Tapi santai saja, kami berdua baik-baik saja, aku berhenti dan menepi dan menenangkan diri. Perjalanan pulang? Lanjut dong. Jadi disini, minimal sudah pernah dijawil sama ‘kematian’.

Dua. Tidak lama setelah itu, kejadian seperti ini terjadi lagi. Untungnya kali ini cuma sendiri. Terjadi di daerah osowilangun, jadi sudah dekat dengan gresik. Tapi perlu diingat, jalur gresik surabaya itu jalur sangat rawan kecelakaan. Sama, ketiduran pas naik motor, dan kali ini nabrak bakul bakso. Untungnya, jalan pas sepi, dan gak nabrak dengan kecepatan tinggi, dan langsung tersadar. Langsung turun minta maaf, dan disuruh ke warkop terdekat. Buat apa? dimarahin tentu saja. Sebetulnya diminta ganti rugi juga, tapi karena gak bawa uang, ga jadi, sepertinya kasihan juga. Setelah dikasih teh sama pemilik warung, mulai agak tenang dan diijinkan melanjutkan perjalanan pulang.

Tiga. 2016, beberapa hari setelah menikah. Waktu jalan2 sama adik ipar, ke beberapa destinasi di jogja. Terjadi di destinasi terakhir, di pantai goa cemara. Intinya sih disana, targetnya ya foto-foto saja. Nah, pas ambil foto di bibir pantai, pas lagi gendong istri, ada ombak besar yang menjatuhkan. Setelah jatuh, ombaknya terasa seperti menyeret ke laut. Disitu, sebetulnya kayak benar-benar mau keseret total, dan tanpa harapan. Ditarik ombak laut selatan itu mengerikan, meskipun masih di bibir pantai. Tapi, saat itu, yang pasti belum ingin menyerah. Jadi tetap berusaha untuk keluar dari tarikan ombak, dengan bantuan adik ipar juga tentunya. Dan pada akhirnya berhasil selamat juga, belum waktunya memang. Kehilangan beberapa hal, tapi yang pasti, sampai sekarang masih diberi kesempatan untuk hidup.

NB : Kenapa ditulis? Biar nanti, kalau aku bahas kematian gak ada yang protes, “tahu apa tentang mati?”. Bro, I know more than you did.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.